Tampilkan postingan dengan label Kemitraan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemitraan. Tampilkan semua postingan

4/16/2022

Sosok Eyang Hadisoro Dimata Hary Suroyo

WENDIT MALANG 2009.  Saudaraku sedarah-daging KBHS yang tercinta, alhamdulillah kali ini kita telah kedatangan seorang tamu, seorang tokoh Spiritual yang di segani dikalangan masyarakat khususnya bagi masyarakat kota Batu dan sekitarnya. Pertemuan kami ini memang tidak pernah di rencanakan sebelumnya, namun sudah diberi tahu oleh beberapa saudara akan kehadiran beliau di tengah acara tradisi Rejeban keluarga Hadisoro itu. Akhirnya kamipun bertemu, bertatap muka, beramah tamah dan berlanjut dalam suasana perbincangan yang lebih serius, namun tetap dalam suasana hangat, santai sambil ditemani segelas kopi panas. Kami berdua duduk begitu santai ditemani segelas kopi manis di salah satu ruang di kediaman eyang di Mendit. Begitu asiknya perbincangan kami sesekali di selingi tawa canda, akhirnya sampailah kami pada pembicaraan yang agak lebih khusus merujuk pada ketokohan figur seorang eyang Hadisoro.

Hary Suroyo
Almarhum bapak Hary Suroyo
"Meskipun jasad beliau hanya tinggal tulang-belulang, namun kita semua harus yakin betul, bahwa jiwa, semangat, kepedulian beliau akan relevansi dan existensi simbolik Pendopo Eyang Hadisoro masih tetap ada disini dan hidup terus di tengah kita semua", ujar pak Hary Suroyo ketika mengawali perbincangannya.
Sosok tokoh idola yang dihormati karena kearifan dan kharismatiknya. Pak Hary begitu nama panggilan akrab sehari-harinya. Berikut ini marilah kita simak hasil perbincangan selengkapnya. 

Dapat dijadikan suri-tauladan bagi kita semua, beliau memang termasuk dalam barisan pejuang tanpa pamrih dalam sumbangsihnya kepada negeri ini. Sebab kala itu eyang pernah memberi wejangan-wejangan kepada Bung Karno. Jadi memang demikian adanya beliau adalah teman karib sekaligus penasehat spiritual Bung Karno.


Disini telah hadir kalangan pemuda-pemudi generasi muda yang mengidolakan Bung Karno, umumnya para mahasiswa yang masih aktif kuliah. Ditempat ini sebetulnya lebih tepat disebut sebagai tempat bersejarah yang sarat akan kenangan perjuangan para pemuda 'tempo doeloe'. Jerih payahnya eyang ini jangan disia-siakan sembarangan, tidak dihargai, misalkan dengan cara tempat ini dijadiakan atau dipakai sebagai ajang untuk 'cari nomer' dan lain sebagainya, saya keberatan !". demikian tambahnya. 


Jadi saya mohon ijin kepada para 'putra-cucu' Eyang Hadisoro barangkali saya ikut 'kutak-kutik' tempat ini, saya juga ingin 'melanjutkan' Eyang karena beliau 'merasuki dalam jiwa' saya. Saya bukan muridnya Eyang, melainkan dari aliran lain, namun ketika di kota Batu tahun 1956 orang tua saya yaitu bapak Cipto Handoyo masih kerabat dekat Eyang. Terakhir beliau menjabat sebagai mantan seorang Bupati Probolinggo tahun 1964-1969. Waktu itu ketika saya masih kecil pernah diajaknya 'sowan' kesini. Ketika itu Eyang masih tinggal dibawah sana, seraya menunjukkan jarinya kesatu sudut lokasi dipelataran padepokan Hadisoro. Rumah Eyang saat itu memang masih terbuat dari bahan 'Damen' (Jerami). Yang kemungkinan sekarang posisinya disudut sebelah kiri di area pelataran Pendopo Hadisoro. Kemudian tambahnya : "Bagaimanapun juga kita harus lanjutkan ! Suatu hari ada rombongan yang ingin memperbaiki dan memanfaatkan Vihara, saya keberatan karena tidak mohon ijin dulu kepada para Putro-wayah eyang. Juga ada aliran-aliran yang melenceng dari ajaran Islam". Begitu ujarnya sambil meraih gelas kopi dan lalu sedikit mereguknya.   

Dari hasil isi perbincangan kami diatas itu dapat disimpulkan bahwa sepeninggalnya eyang disamping KBHS sampai saat ini masih ada pihak-pihak diluar sana yang begitu peduli dan mengakui existensi eyang Soro. Maka jika tidak berlebihan saya menghimbau kepada seluruh putra-cucu-buyut Hadisoro untuk senantiasa hadir, memantau, melihat dan merasakan adanya perkembangan pendoopo terkait silahturahmi kerukunan, keguyuban sebagai wujud marwah konsistensi menghormati dan 'cinta eyang kita', Hadisoro. Dengan memperhatikan existensi eyang Soro berarti  kita berupaya pula untuk memelihara hubungan persaudaraan dan keguyuban anggota KBHS dan para komunitas pini sepuh dan generasi peduli eyang Hadisoro. 

Eyang putri-kakung Hadisoro di apit kedua putranya R. Soemarson dan R. Somaryon.

Jadikanlah Eyang Soro sebagai sosok 'icon' pemersatu keguyuban persaudaraan kita. Profil Hary Suroyo telah mengajarkan kepada kita akan arti pentingnya kesadaran berbudaya 'cinta leluhur' sumber sejarah budaya tatanan sosial atau panutan kesadaran akan asal-usul kita, sehingga kecurigaan, keengganan untuk berkumpul bersama dapat ditepis menjelma menjadi sebuah kesadaraan yang hakiki, hidup rukun, guyub dan penuh toleransi dan lestari selama-lamanya. Semoga ini bukanlah sebuah impian semata, ini akan menyadi nyata jika kita saling menyadari betapa pentingya memelihara hubungan silahturahmi persaudaraan itu kita selama-lamanya.

Udara di sekeliling Wendit malam itu semakin dingin, suara-suara hewan serangga jangkerik memecah kesunyian tanda hari sudah semakin larut malam. Perbincangan asik kamipun sebenarnya masih ingin berlanjut, tapi berhubung beliau harus pulang kerumahnya juga di Batu, akhirnya sepakat kami sudahi saja perbincangan ini toh masih banyak kesempatan lain, sekaligus mengakhiri perjumpaan kita kali ini. Wasalam dan salam Hadisoro, salam sehat. (RW'09)

Sosok Eyang Hadisoro Dimata Hary Suroyo

WENDIT MALANG 2009.   Saudaraku sedarah-daging KBHS yang tercinta, alhamdulillah kali ini kita telah kedatangan seorang tamu, seorang tokoh ...